Diam
Itu tindakan yang aku pilih
Bukan takut akan kebenaran, tapi bagiku...
Seorang Satria lah yang berani menunggu kebenaran itu muncul dengan sendirinya
Diam
Bukan karena aku tak mau bercerita
Aku rasa percuma
Tak sedikit orang yang menghinaku
Tak banyak orang yang mendukungku
Momentum, itu yang aku tunggu
Diam
Kalau pun aku bercerita
Harus membayar dengan apa agar kalian percaya
Karena aku bukan Sengkuni, aku memilih diam
Aku hanya bicara dengan Semesta
Bercerita dengan plafon
Dan berbisik dengan alam
Terkadang bercengkrama dengan teman,, tapi ketauhilah...
Teman, itu hanya sedikit dari kebenaran itu sendiri
Biarkan alam, Semesta raya, menjawabnya
Karena tugasku adalah Memayu Hayuning Bawono
Sekarang aku hanya ingin diam :)
Andai saja dunia melihat kebenaran yang dia lihat...
...Lalu biarkan seleksi Tuhan bekerja pada hati setiap orang - Ariel
Inspirasi dari tulisan Ariel
Jumat, 26 Oktober 2012
Kamis, 11 Oktober 2012
Aku bukan Bisma
Pada sebuah senja aku bercerita...
Bisma, salah satu tokoh wayang yang (menurutku) sebenar benarnya lelaki. Dia (tak sengaja) membunuh gadis yang dicintai, karena terikat sumpah madat, sumpah tidak menikah seumur hidup. Tapi apakah Bisma itu ada? kalau pun dia ada, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk dia "move on"?.
Aku tak mau jadi Bisma, karena aku bukan dia, akupun tak tahu apakah dia memang benar benar ada. Aku ingin jadi aku. Yang bisa menangis, tertawa, sampai menangis lagi, sampai tertawa lagi.
Mari kita bicara sedikit tentang Bisma, perawakan yang kekar dengan wajah teduh saat memberi nasehat, dan jenggot putih dengan bidadari bergelantungan. Bisma, seperti yang aku ceritakan diatas, pernah bersumpah madat, dan dipeganggnya sumpah itu seumur hidup. Salah satu cerita yang membuat aku menilai dia sebagai lekaki sejati. Karena bagaimanapun, di dunia ini yang paling berat ialah sumpah dan janji. Itulah yang aku ragukan dari diriku untuk menjadi Bisma. Aku tak sanggup memegang sumpah atau janji yang sialnya itu keluar dari mulutku sendiri. Karena aku manusia.
Kembali ke Bisma...
Karena sumpah itulah dia tak sengaja membunuh Dewi Amba, seoarang dewi yang mencintainnya dan diam diam Bisma juga mencintainya, diam diam. Kehilangan, itu pasti, seberapa pedih rasa itu? rasa kasih yang tak diungkapkan, rasa kehilangan yang tak satupun orang tahu, dirasakannya sendiri, menangis dalam diam, karena dia menyanyanginya diam diam.
Masih inginkah aku seperti Bisma, yang mencintai diam diam, tanpa kepastian, tanpa pengakuan. Tidak, aku bukan Bisma.
Tapi tahukah, diakhir cerita, Bisma berakhir bahagia, rohnya dijemput Dewi Amba untuk menuju Nirwana. Kalau yang satu ini, aku ingin seperti dia, bersanding dengan seorang yang kucinta, bukan seorang istri ataupun pacar, tapi seoarang yang kucinta. Karena jodoh adalah orang yang ada di hati menjelang ajalku.
Dari ruang yang bernama ADA, aku bertanya...
Masih berlaku kah janji itu? meski aku dan kamu bukanlah Bisma
Selasa, 07 Februari 2012
Malang
Hai malang, masih membeku kah orangmu?
Kau terlihat semakin tua
Kalau tak percaya, lihat punggungmu
Sudah mulai bungkuk, berpunuk tak kuat lagi menopang beton
Aduh lihat perutmu sudah mulai buncit
Sudah rancu kah susunan tubuh mu sampai sampai air pun bingung mencari dasar
Kau sungguh terlihat tak sehat, mukamu pucat
Mana teriakan orang orangmu? yang konon katanya heroik
Sudah tak tampak hidungnya, entah karena tertutup rimbunnya belantara beton
Atau terlena dengan kehedonan
Ah sial, aku juga termasuk orang orangmu
Aku juga bagian darimu
Aku juga termasuk orang orangmu yang beku
Sudah mulai bungkuk, berpunuk tak kuat lagi menopang beton
Aduh lihat perutmu sudah mulai buncit
Sudah rancu kah susunan tubuh mu sampai sampai air pun bingung mencari dasar
Kau sungguh terlihat tak sehat, mukamu pucat
Mana teriakan orang orangmu? yang konon katanya heroik
Sudah tak tampak hidungnya, entah karena tertutup rimbunnya belantara beton
Atau terlena dengan kehedonan
Ah sial, aku juga termasuk orang orangmu
Aku juga bagian darimu
Aku juga termasuk orang orangmu yang beku
Minggu, 02 Oktober 2011
02 OKTOBER 2011
02 OKTOBER 2011
Tampang enggan, lemas menuju kamar
Ku buka kotak hitam yang bernama laptop
Segera ku pilih icon bergambar petir, winamp
Tanpa pikir panjang ku pilih 2 band yang cukup akrab di telinga ku
Souljah dan shaggy dog
Menikmati ska sendiri tanpa kegaduhan, gontok gontokan, atau saling hantam sesama teman
6 jam sebelumnya, aku dan teman teman asyik berdansa
Namun dalam alunan kedamaian itu di selingi kekerasan yang kurasa di situ bukan tempatnya
Atau mungkin yang bernama kekerasan sekarang sudah gak jaman
Sempat kembali ekstase ketika seseorang meneriakan PEACE, RASTAFARA, YOMAAAN, UYEEE
Yang dimana kata kata tersebut tendensi kedamaian
Tapi itu hanya kata kalah dengan kaum kaum yang haus eksistensi dengan menjunjung sebuah kelompok atau individu
Bersandar di tembok
Tiba tiba terdengar kata yang menurutku saru
Dengan nada geram seseorang berkata "kapan ada acara punk?" "aku pingin bikin ribut disana"
Balas dendam kah?
Lagi lagi perbuatan yang kontraproduktif
Begitu mustahilkah kebersamaan?
Begitu haramkah saling bersulang dalam satu lingkaran?
Tampang enggan, lemas menuju kamar
Ku buka kotak hitam yang bernama laptop
Segera ku pilih icon bergambar petir, winamp
Tanpa pikir panjang ku pilih 2 band yang cukup akrab di telinga ku
Souljah dan shaggy dog
Menikmati ska sendiri tanpa kegaduhan, gontok gontokan, atau saling hantam sesama teman
6 jam sebelumnya, aku dan teman teman asyik berdansa
Namun dalam alunan kedamaian itu di selingi kekerasan yang kurasa di situ bukan tempatnya
Atau mungkin yang bernama kekerasan sekarang sudah gak jaman
Sempat kembali ekstase ketika seseorang meneriakan PEACE, RASTAFARA, YOMAAAN, UYEEE
Yang dimana kata kata tersebut tendensi kedamaian
Tapi itu hanya kata kalah dengan kaum kaum yang haus eksistensi dengan menjunjung sebuah kelompok atau individu
Bersandar di tembok
Tiba tiba terdengar kata yang menurutku saru
Dengan nada geram seseorang berkata "kapan ada acara punk?" "aku pingin bikin ribut disana"
Balas dendam kah?
Lagi lagi perbuatan yang kontraproduktif
Begitu mustahilkah kebersamaan?
Begitu haramkah saling bersulang dalam satu lingkaran?
Selasa, 02 Agustus 2011
BROMO 2
gaduh suara angin bromo
berlomba dengan getar badan
gigi saling bersentuhan dengan tempo tinggi
ribuan bintang tersebar berserakan
malam itu, hawa dingin bromo menyelimuti erat
aku menggigil, seperti waktu itu
waktu dimana jiwa ku hipotermia karena kebekuan
lalu, kehangatan sinar sunrise pertama menyentuh kepala
penat penantian sirna
kau datang membawa berjuta lara
sejarah, penantian, dan perihnya luka
aku bisa pergi ke puncak gunung
aku bisa pergi ke tengah tengah samudera
aku bisa pergi di antara kebingungan desa dan kota
ya, aku bisa kemana saja, namun jiwa ini terbawa oleh mu
berlomba dengan getar badan
gigi saling bersentuhan dengan tempo tinggi
ribuan bintang tersebar berserakan
malam itu, hawa dingin bromo menyelimuti erat
aku menggigil, seperti waktu itu
waktu dimana jiwa ku hipotermia karena kebekuan
lalu, kehangatan sinar sunrise pertama menyentuh kepala
penat penantian sirna
kau datang membawa berjuta lara
sejarah, penantian, dan perihnya luka
aku bisa pergi ke puncak gunung
aku bisa pergi ke tengah tengah samudera
aku bisa pergi di antara kebingungan desa dan kota
ya, aku bisa kemana saja, namun jiwa ini terbawa oleh mu
Senin, 04 Juli 2011
CORO
Bukan, dia bukan manusia, lihat saja, dia tak berkaki dua, dia berkaki enam. Dia mempunyai sungut, makhluk kecil menjijikan. Benar!! dia seekor coro.
Hei coro!! kau tak pantas di situ, ya di meja itu, sangat sumbang bila di pandang. Lambungmu tak cocok sama makanan makanan ini, Tenggorokanmu gak mampu menelan minuman ini. Ujung ujung nya kamu muntah muntah ato mencret. Hei!! kau mau tampil gaya atau sengaja meledek, sudah lah sudah, jangan ngoyo pingin jadi orang gedean. Bukan aku sombong, aku kasian sama kamu, tidurmu gak bakalan nyenyak dengan ini semua. Bangun bangun kamu pasti berkeringat, karena di kejar mimpi mimpi mu. Apa?? ooh kamu pingin pintar??jadi intelek??mimpimu semakin berjubel, buatku semakin kasian. Hmmm aku yakin kamu gak pernah mimpi basah, apa??, halaaah ngaku sajalah, mimpimu kan selalu penuh dengan mimpi mulukmu.
Pintar itu mahal disini, biaya sekolah, biaya kuliah tersangkut di langit, ngaca doong!! kau itu hanya seekor coro. Ssssttt disini gak perlu jadi intelek biar bisa kaya, cukup punya nama, banyak teman, koar sana sini, semprot sana sini, kong kali kong, amplop tebal, salaman. Ya itu saja cukup, aku yakin, bila itu semua terlaksana, syukur syukur kamu bisa nambahin, wajahmu pasti tetap tersenyum besok di koran koran, majalah, televisi.
Eh coro, itu ibumu sudah nyuruh tidur, matikan lampunya, ingat!! kalau mau ketemu aku di mimpi, cari saja aku di negara sebelah ya.
CORO MEMATIKAN LAMPU. PERLAHAN RUANGAN MENJADI GELAP. CORO TIDUR TAK BERSELIMUT TAK BERBANTAL, BAHKAN TAK BERBAJU. DIA INGIN BERTEMU ORANG YANG TADI. DAN DIA TAHU BETUL, BAHWA DI NEGERI SEBERANG AMAN. MAKA DARI ITU DIA TAK MEMAKAI APA APA.
Sabtu, 02 Juli 2011
bromo
Cerah, sabtu 2 juli 2011 di lautan pasir bromo.
Entah jam berapa sekarang, tapi yang pasti matahari di atas kepala.
mungkin jam 1 atau jam 2, mungkin.
Di depan ku sebotol bir yang penuh dengan busa.
Sambil menghirup asap rokok kretek, aku termenung.
Bingung, entah, aku bingung apa yang buat ku bingung, linglung.
Duduk bersila di atas pasir, mengais kata kata, lalu memilih, memilah.
Mencurigai diri sendiri, membohongi diri sendiri.
Mencoba berbohong, namun itu tak menolong.
Entah jam berapa sekarang, tapi yang pasti matahari di atas kepala.
mungkin jam 1 atau jam 2, mungkin.
Di depan ku sebotol bir yang penuh dengan busa.
Sambil menghirup asap rokok kretek, aku termenung.
Bingung, entah, aku bingung apa yang buat ku bingung, linglung.
Duduk bersila di atas pasir, mengais kata kata, lalu memilih, memilah.
Mencurigai diri sendiri, membohongi diri sendiri.
Mencoba berbohong, namun itu tak menolong.
Langganan:
Postingan (Atom)
