Senin, 01 Februari 2016

Pulang

Galaksi belum juga bisa mengingat jalan yang telah dilewatinya tadi. Dia kelimpungan, menoleh ke sana dan ke mari, hanya tampak barisan pepohonan yang tidak rapi, dan beberapa kali hewan-hewan yang melompat, ada juga yang setia mengawasinya.

Dia lelah, ditaruhnya tas ransel berukuran sepaha orang dewasa. Tidak terlalu besar untuk orang yang berniat berlama-lama di alam bebas. Dia tersesat.

Tak lama setelah Galaksi merebahkan semua bagian tubuhnya ke tanah, suara pijakan kaki terdengar dan semakin lama semakin mendekat pula. Seketika itu juga dia terbangun dari rebahnya. Nampak seorang tua melemparkan senyum kepadanya. “mau ke mana nak”, tanya orang tua itu dengan kesopanan khas orang jawa. “pulang”, jawaban yang keluar begitu saja dari mulut Galaksi. Mata Galaksi mengawasi orang tua itu dengan seksama, dan berhenti pada tangannya yang memegang sebuah golok besar. Tidak mudah memang bagi orang kota untuk percaya pada orang asing yang baru ditemuinya.

“hari sudah semakin sore, kalong sudah keluar dari persembunyian, tidak lama lagi akan gelap, jika anak capek dan mau singgah, aku sangat mempersilahkan”

“tidak, terimakasih, aku harus pulang”

“pulang ke mana? Tidak ada rumah bagi orang yang tersesat”

Galaksi habis kata, dia terdiam sejenak, mungkin akan lama jika orang tua itu tidak cepat-cepat melangkah menuju sebuah tanah yang cukup lapang. Dan tepat di tengah tanah lapang itu berdiri sebuah bangunan kayu yang begitu indah dan kokoh. “Ini rumah kakek?”, orang tua tersebut tidak lantas menjawabnya dengan kata, namun digantikan gestur tangan yang mempersilahkan Galaksi masuk.

Dibuatkanlah kopi dan singkong rebus. Sambil melihat sekeliling rumah, Galaksi berpikir untuk memulai sebuah obrolan guna mencairkan suasana.

“ini rumah kakek?”

“ya, aku sendiri yang membangunnya”

“di mana keluarga kakek?”

“kota”

Obrolan mati. Hanya terdengar suara daun dan batang pohon yang saling bergesekan karena lalu lalang hewan malam.

“tujuan anak ke mana?”

“sebenarnya tidak ada tujuan pasti, hanya ingin sendiri, namun sial, aku lupa jalan pulang”
Kakek itu meminum kopinya dan menyalakan rokok.

Dengan batuk yang dibuat-buat, Galaksi memberanikan diri untuk bertanya lebih jauh tentang kakek, “kek, kenapa kakek ingin berdiam sendiri di sini?, ke mana keluarga kakek?”. Kakek itu menoleh lemas kepada Galaksi.

“Di dunia yang orang-orangnya haus akan hiruk pikuk, kesunyian adalah sebuah kemewahan”, kalimat kakek yang mengambang di udara dan tatapan mata yang menjurus entah ke mana. Seketika itu pula kenangan masa lalu menerobes tanpa permisi.

Pada saat itu, kakek yang masih muda dan penuh semangat pembaharuan dan salah menempatkan diri. Dia orang benar di waktu yang salah. Pagi-pagi buta pintu rumah digedor dengan laras senjata. Semua isi rumah diobrak-abrik, malang benar nasibnya, ditemukan pedang pula di rumahnya. Kakek berhasil kabur melompati pagar halaman belakang dan membelah perkebunan tebu. Namun tidak bagi istri kakek. Mereka dituduh komunis. Ya, di negeri ini menjadi seorang komunis dipandang sangat hina, lebih hina dari seekor babi yang hidupnya berkubang tahi.

Ya, di negeri ini, orang bisa begitu saja dihukum tanpa pengadilan. Kakek terus saja berlari membela perkebunan tebu, sesekali menoleh kebelakang, dan akhirnya berhenti di pinggiran kali.
Degup jantung mulai meredah, pikiran mulai mengambil alih. Kakek menyesal sebegitu hebat atas penangkapan istrinya. Pertanyaan-pertanyaan yang memburu terus berdatangan. “Kenapa, kenapa aku meninggalkan istriku begitu saja”.

Angin menembus halus dari sela-sela kayu, hewan-hewan malam sibuk dalam dunianya, dan detik jam terus berputar dan umur manusia yang setetes demi setes ikut cair mengekornya. Dua manusia yang khusyuk memandangi perapian dan kopi yang mulai dingin. Malam begitu lambat.

“lalu di mana sekarang istri kakek”

“rumah ini nak, rumah inilah yang telah aku siapkan untuk kepulangan istriku, tak peduli dia masih bernapas atau hanya sebentuk onggokan daging ”

“aku tidak tahu betul bagaimana keadaan dia sekarang, aku sudah coba cari tahu tentang dia, namun orang-orang desa menjauh saat aku dekati, hanya saja waktu itu ada anak kecil yang berteriak mengatakan kalau istriku sudah meninggal. Itu pun keluar dari mulut seorang bocah”

Kakek meminum kopi dingin dan kembali membakar rokok, “rumah inilah tempat aku mengundang istriku, dengan kopi tanpa gula dan asap tembakau, ya, meskipun hanya kenangannyalah yang datang”

Galaksi hanya diam sedari tadi, dia sadar akan kelemahan dirinya di depan seorang tua yang sarat pengalaman. Mungkin hanya tenaga satu-satunya poin yang bisa mengalahkan kakek tua itu. Dia memilih senjata yang paling tepat, menjadi pendengar yang baik.

“ada satu lagi nak yang membuat kakek cemas akhir-akhir ini. Rumah ini akan digusur oleh pemerintah, alasan mereka karena ini adalah hutan lindung. Aku tidak tahu tentang berkas, surat, riwayat yang mereka minta. Aku hanya tahu hutan inilah salah satu saksi nyata sejarah Indonesia. Di sinilah para tentara gerilya bersembunyi dan mengatur strategi, hutan inilah yang menampung para pembangkang yang tidak mau tunduk pada penjajah”

“ya, aneh memang, di dunia seperti sekarang ini manusia dinilai dari berkas-berkas, hanya dari selembar-selembar kertas” galaksi menimpali.

“lalu, apakah kakek akan bertahan di sini? Atau meninggalkan kerja keras yang selama ini kakek kerjakan? Apakah mereka tidak bisa dilawan?” galaksi meneruskan.

“aku terlalu sibuk untuk melawan diriku sendiri, sibuk untuk membenci diriku sendiri”

Kakek terdiam, tampak asap keluar dari mulutnya dan akhirnya hilang bersama angin malam.

Galaksi pun begitu.

Mereka berdua diam.

“lalu bagaimana dengan kamu, nak? Ke manakah anak akan pulang” Kakek bertanya dengan suara seraknya.

“aku ingin pulang, kek”

“Pulang ke rumah tidak semudah seperti yang kita ramalkan. Seperti tercebur dalam sungai yang sama. Dan kamu tidak tahu siapa yang menantimu di balik pintu itu. Karena pulang berarti menjumpai yang selama ini kamu tinggalkan”

“aku tidak hanya ingin pulang, aku ingin ke rumah”

“rumah itu bukan sekedar bangunan, rumah adalah saat kamu bangun dari tidur dan ada sejuta senyum yang menyapamu. Apakah kamu sudah mendapatkan rumah? ”

“aku tidak tahu, tapi aku pernah mendapatkan rumah, di sebuah kota yang jauh dari sini, dan ke sanalah aku aku pulang”

“apa kamu siap?”

“aku tidak tahu pasti, aku tidak tahu seperti apa di sana sekarang, orang-orangnya, udaranya, suasananya”

“nak, pulang ke rumah tidak harus sama seperti dulu. Pulang adalah apa yang kamu rasa, adalah tentang orang-orang yang peduli dengan kamu, yang menerima semua kebaikanmu dan keburukanmu”

Kakek meminum kopinya sampai habis dan mematikan bara rokoknya. Sebuah isyarat untuk segera meletakkan punggung di kasur.

~~~

Pagi begitu dingin.

Galaksi telah siap untuk meninggalkan sebuah rumah kayu istimewa yang diperuntukkan untuk seorang istimewa pula. Sebelum berpamitan dan meninggalkan itu semua. Sekali lagi dia bertanya kepada kakek.

“Kek, apa kakek akan mempertahankan rumah ini”

“Meluapkan segala kebencian, begitulah mati dengan kebebasan”, kakek menjawab dengan bibir gemetar.

“terimaksih untuk rumah, dan kopi, dan singkong rebusnya kek, maaf aku tak bisa memberi apa-apa”

“waktu nak, kamu telah memberi aku waktu, yang tak semua orang dapat memberinya dengan cuma-cuma”.

Pagi menjadi siang dan berganti malam. Rumah itu tetap hangat menanti seorang manusia renta yang entah ke mana…

Jumat, 22 Januari 2016

Rumah itu Bernama Nandur Dulur

Pasti dari setiap kita pernah mengalami hal-hal tersulit. 

Ya, hal tersebut tidak bisa dinilai secara sembrono, karena tidak ada peran pengganti untuk merasakan luka dalam diri kita. Setahun yang lalu, aku merasakan hal tersebut, melambung tinggi lalu jatuh dengan sekali jadi. Bukan bagaimana aku terjatuh yang ingin aku ceritakan di sini, namun apa yang aku lakukan setelah itu.

Aku tak ingat pasti tanggal berapa, namun minggu senja dan taman kota adalah kombinasi yang aduhay untuk berkumpul bertukar cerita bersama teman. Aku, Lintang, dan Nadia, bertiga melingkar sambil memegang kuas. Ah bodoh memang aku dalam hal corat-mencoret. 

Aku, Zebra, dan Kongja
Tiga manusia aneh, yang satu berambut panjang konon adalah jelmaan Zebra, dan wanita di sebelahku saat itu lebih mirip Kongja. Tiga manusia aneh itulah yang membuat rasa penasaran di luar lingkaran. Adik-adik kecil pengunjung taman kian lama kian mendekat juga. Mereka ingin juga mencorat-coret lembaran kosong itu. Sungguh menyenangkan memang, seperti kata Iwan Fals “memberi itu terangkan hati, seperti matahari yang menyinari bumi”, ya, kami berbagi keceriaan senja di taman kota.
Beberapa anak mulai penasaran dengan kegiatan kami



Dan kami tidak mau begitu saja melewatkan keceriaan sederhana di taman kota saat itu, sepakat untuk mengulangnya kembali di minggu berikutnya.

Mendengar ada keceriaan taman di kota tetangga, membuat telinga kami bertiga tergelitik ingin tahu apa yan mereka lakukan. Berangkatlah kami menuju sarang mereka, oh iya, ada satu manusia goa dengan segala imajinasi liarnya yang ikut dengan kami, Aswin. Dan satu lagi perempuan, Vania.

Mereka juga seseruan di taman kota Batu. Ada Rio, Didi, dan Deno, tiga serangkai yang mirip dengan Aang, Saka, dan Katara. Mereka menamai kegiatan mereka Nandur Dulur yang dalam bahasa Indonesia bermakna menanam persaudaraan. Konon, nama Nandur Dulur keluar dari mulut seorang vokalis band ternama Kota Malang, Screaming Factor. Mas Novi yang mencetuskan nama tersebut. Sederhana dengan makna yang luar biasa, Nandur Dulur kami bawa turun ke Kota Malang.

Berbekal kuas, pensil, cat air, pensil warna, kertas, panggung boneka dan magical box yang berisi buku dan komik untuk anak-anak, kami bersiap dengan mengusung sebuah semangat Nandur Dulur di Kota Malang.

Kotak ajaib yang selalu menamani seseruan
Tak disangka memang, kegiatan sederhana tersebut menarik banyak minat orang-orang, satu persatu orang datang berkenalan dan menawarkan diri untuk ikut membantu, seperti Desi contohnya Meskipun hanya sebentar karena kesibukan di dunia pertanian, dia pernah merasakan berdesak-desakan dengan teman-teman lain di balik panggung boneka untuk menceritakan dongeng.

Mendongeng dan berdesakan
Bagaimanpun itu, hukum alam memang bekerja, beberapa teman datang dan pergi. Itu bukanlah masalah yang berarti, karena sedari awal memang tidak ada paksaan untuk siapa pun itu ikut berkontribusi di Nandur Dulur. Seperti kata Pak Maruto salah satu seniman keren Kota Malang “setiap karya akan menemukan jodohnya sendiri”, begitu juga Nandur Dulur, kami tidak takut akan kekurangan orang-orang yang ingin berbagi keceriaan.

Terbukti memang, Tintus, mahasiswi dengan keahlian memijat sapi ujuk-ujuk datang dengan senyum lebarnya. Siapa yang mengira perempuan berbadan gempal penuh tatto itu suka rela untuk mengajari anak-anak kecil menggambar.

Nandur Dulur semakin dikenal masyarakat, banyak para orang tua, anak, dan muda mudi menanti acara ini. Timbullah pertanyaan dari benak sebagian dari mereka, “bagaimana Nandur Dulur membiayai kegiatannya?”, dengan senyum ikhlas tanpa paksaan kami selalu jawab “kami membiayai dari uang kas, yang mana uang kas itu hasil dari patungan”. Dan jawaban kami tersebut menimbulkan pertanyaan untuk diri kami sendiri, “sampai kapan kita harus membiayai dari uang patungan?”. 

Muncullah ide untuk membuat produk, seperti kaos, kantong, emblem, atau stiker. Pepatah lama “kalau ada kemauan pasti ada jalan” masih berlaku ternyata. Tak lama setelah ide itu muncul, Pena Hitam sebuah kolektif sadis akan mengadakan ulang tahunnya yang ketiga di bukit paralayang. Dan kami pun ikut serta (meskipun kami tidak ikut dalam antrian daftar :p) dalam pesta tersebut dengan menggelar lapakan kami.

Alhasil, keuntungan yang kami dapat cukup untuk membeli peralatan menggambar dan memperbaiki panggung boneka (yang awalnya dari kardus bekas diganti dengan kayu).

Tak hanya teror bom yang cepat meluas, keceriaan sederhana di taman pun begitu juga. Terbukti teman-teman dari Kota Kediri mendengar kegiatan Nandur Dulur, hanya dengan sekali bertemu dan mengobrol tentang Nandur Dulur, mereka sepakat untuk membuat Nandur Dulur mereka di Kota Kediri. Sungguh menyenangkan saat virus seseruan di taman dapat tertular dan menyebar.

Virus itu pun menyebar kesegala lini, Iksan Skuter (meskipun beberapa kali aku menemui dia memakai selain skuter) pun ikut terinfeksi. Dibuatkanlah album CD Kecil Itu Indah yang berisikan lagu anak-anak tempo dulu.

Tak lengkap memang menceritakan sebuah kisah tanpa adanya konflik. Ya, kami juga sering mengalami konflik internal. Entah itu konflik pribadi, kolektif, pribadi yang dibawa ke kolektif. Dan bagiku, konflik adalah bagian dari proses kedekatan itu sendiri. Tidak mudah memang untuk menyatukan banyak kepala dalam satu rumah. Ada yang pergi dan juga bertahan, ini bukan karena benar dan salah, atau menang dan kalah. Kami hanya ingin menghormati pilihan setiap masing-masing individu. Karena aku sendiri tidak ingin jadi orang paling benar, karena orang benar hanya ada di kitab suci, dan pemenang itu sendiri adalah seorang pembunuh. Begitulah yang sering aku baca di buku.

Apapun yang pernah dilahirkan sudah pasti akan mengalami kematian, namun sebelum kematian itu datang, ada hal yang tidak boleh dilewatkan. Ulang Tahun :D.

Sulis, dari Australia workshop membuat hewan dari balon
Anggun meniup kue ulang tahun ND yang pertama
Karena kami tidak ingat betul tanggal kelahiran Nandur Dulur, kami putuskan untuk mengadakan ulang tahun di tanggal 15 November 2015. Acara yang awalnya disusun secara meriah, akhirnya setelah menimbang-nimbang kami adakan secara sederhana, mengingat Nandur Dulur memang mengutamakan kesederhanaan tanpa menghilangkan keceriaan.

Ulang tahun tersebut juga ikut menggandeng beberapa komunitas seperti Dari Masa Lalu, Posko Visual, Malang Berkebun, Berwaktu luang yang datang dari Kota Surabaya, dan Nandur Dulur Kediri. Dan beberapa musisi Kota Malang yang secara tiba-tiba kita dorong naik ke atas panggung. Dan satu lagi manusia kokoh tak tertandingi (meskipun dia sering mengeluh soal pinggang), Mas Aris atau biasa kita pangging MasBo.

Dan sampai sekarang, saat tulisan ini dibuat, Nandur Dulur masih menceriakaan taman. Masih mempunyai mimpi membangun sekolah gratis. Masih ingin berbagi. Masih mencari dan memupuk persaudaran. Masih mengingatkan pada semua bahwa bahagia tidak harus membeli. Masih belajar dan mengajar. Masih berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama tersenyum pada siapapun yang datang.

Oh iya, foto dan dokumentasi di atas adalah hasil dari jemari lentik Melati, manusia yang pertama aku mengenal mempunyai sebuah senjata yaitu biola dan kamera.

Terimakasih untuk kalian semua yang mengajariku sebuah proses bahwa berbagi itu tidak mengurangi. Terimakasih untuk kalian semua yang mengantarkanku ke dalam sebuah ‘rumah’.


Suasana setelah rapat Nandur Dulur di landasan Paralayang

Maaf untuk nama-nama yang tidak bisa aku sebut satu-persatu, karena begitu banyak nama yang ikut dalam proses Nandur Dulur. Tapi percayalah, aku cinta kalian semua.

Salam hangat dan peluk erat dariku.

Arief Puji Kusuma :)

Minggu, 06 Desember 2015

Damai Yang Aku Cari Tidak Lebih Jauh Dari Urat Leherku



Aku menyesatkan diriku sendiri ke sebuah desa yang aku sendiri tidak tahu namanya. Semeru, Gunung Semeru itulah tujuanku awal, namun kenapa semakin dekat tujuan awalku, aku merasa semakin tidak menarik Gunung suci tersebut. Sampah plastik, makanan ciptaan laboratorium pabrik, orang-orang yang hanya beberapa kali mendaki gunung namun cukup lancar untuk menceritakan semua hal tentang gunung, bullshit, pikirku. Tidak sepantasnya mereka sok tahu tentang gunung meskipun itu terlontar dari tenggorokan orang yang sudah beratus kali naik gunung. Tidak ada yang tahu rahasia alam kecuali alam itu sendiri.

Aku berdiri berdempetan dengan banyak orang sekaligus dalam truk. Seketika itu juga pikiran nakalku melesat begitu saja. Tidak hanya untuk hewan, manusia yang akan ke alam bebas butuh rehabilitasi lebih dulu. Seekor serigala di alam bebas yang diburu untuk dijadikan hewan peliharaan, yang setiap hari diberi makanan siap saji, tempat tidur dari beludru. Seperti halnya nasib serigala, banyak manusia lupa bahwa mereka sejatinya adalah mahkluk bebas.

Sendiri bukanlah hal yang asing bagiku, seperti sekarang ini aku dikelilingi oleh pepohonan dan lahan pertanian penduduk lokal yang maha luas. Ku putuskan untuk berhenti di tengah jalan dan sesegera melompat dari bak truk. Tidak ada tujuan pasti memang, tapi itu yang menarik dari hidup. Kita tak sedikit pun tahu apa yang terjadi di depan sana, kecuali aku adalah peramal dengan bola kristal, itu pun kalau mereka benar-benar nyata.

Selama perjalan di sebuah desa ini, aku melihat bahwa apa yang diobrolkan orang-orang di kota sana tentang kemajuan tekhnologi sama sekali tidak berlaku di sini. Di mana traktor? Di mana alat penyebar pestisida dengan sekali tekan tombol?

Sebuah bukit telah aku daki kali ini, istirahat untuk beberapa menit mungkin cukup baik bagi tubuh seorang warga kota. Sesekali melihat ke arah langit, mungkin ada baiknya juga tekhnologi yang sedemikian rupa tidak masuk ke desa ini. Aku melihat seorang ibu yang berjalan begitu jauh dari rumah ke lahan pertanian, namun tak terdengar sedikit pun napas yang berat keluar dari hidungnya, apalagi tentang keluh kesah. Bayangkan jika tekhnologi yang bersahabat dengan manusia namun tidak dengan alam itu masuk. Aku yakin ibu dengan umur setua itu tidak mampu lagi berjalan jauh. Baik-baik saja itu memang dapat membunuh.

Mataku tidak henti-hentinya untuk meminta leherku bergerak ke kanan dan ke kiri. Apa yang terjadi sepuluh tahun lagi? Semoga tetap sayur dan buah yang mereka tanam, bukan beton. Damai memang dalam situsi seperti ini, namun tidak bagi petani yang sempat aku temui sepanjang perjalan tadi, di mana Dewi Sri yang diagungkan dalam cerita Jawa saat para petani harus panen lebih awal karena serangan hama, atau karena cuaca tak lagi bisa diprediksi.

Permasalahan orang kota bagaimana mereka besok dapat makan, permasalahan orang desa bagaiaman orang kota besok dapat makan. Lucu memang, saat para petani dengan giat bekerja untuk kebutuhan di kota, kita orang kota tidak sedetik pun memikirkan mereka. Kita terlalu sibuk dengan deadline harian, macet, takut terlambat, banjir, dan hal sampah lainnya.

Hmmmm….

             Semakin lama di sini, semakin muak batinku dengan kemajuan, diperparah lagi karena aku secara tidak langsung menikmati kemajuan peradaban. Damai yang aku impikan tidak kutemui di sini. 

Damai sejati hanya ada di pemakaman.

Senin, 07 September 2015

Diam!

Beberapa dari kalian menganggap ini tidaklah penting
Mudah saja karena ini bukanlah kotamu
Mudah saja karena ini bukanlah rumahmu
Bukan tempatmu bermain bersama orang terkasihmu
Bukan pula ranjangmu
Tapi percayalah
Kita sedang diaduk dalam sistem yang sama
Seperti halnya arisan
Sekarang kita, besok adalah kamu

Kami adalah peringatan bagimu
Kami bukanlah orang yang mengancungkan senjata
Agar kamu tunduk dan patuh
Kami adalah bagian dari tubuhmu
Saat ketakutan tidak lagi menguasai
Kami adalah hari di mana tidak ada lagi televisi
Kami adalah kertas kosong di mana kamu bisa menuliskan apa saja

Bagaimanapun itu
Kamu adalah bagian dari kami
Yang mempertanyakan segala hal
Dan dari segala hal itu
Pasti ada yang harus bertanggung jawab dan dijatuhi hukuman

Memang
Lawan kita adalah sebuah monster besar bernama pemerintah
Semua dari kita takut perang, teror, dan penyakit
Tapi harus sampai kapan kita dirasuki rasa takut
Dari dulu hingga sampai di detik kamu baca tulisan ini
Tetap saja pemerintah menjanjikan kedamaian
Menjanjikan hidup layak atas nama rakyat
Namun ada harga yang mahal dari itu semua
Pemerintah meminta kamu diam

Dan jika suatu hari itu semua telah mengusik hidupmu
Bahwa diam bukanlah jawaban dari hidup yang kamu impikan
Tidak ada jalan lain lagi selain
Lawan!



Senin, 17 Agustus 2015

Kereta tak berhenti lama

Kiamat sudah dekat

Kiamat sudah dekat

Orang-orang berlomba meraih pahala

Para suci teriak nama tuhan

Sambil menyiksa

Membunuh

Menuduh

Mereka percaya kiamat

Berawal kehancuran moral

Bermuara kehancuran seisi dunia

Mereka hanya percaya

Kiamat sudah dekat

Kiamat sudah dekat

Mereka berlomba

Mencari jalan

Menuju tuhan

Ya

Mereka percaya

Kiamat sudah dekat

Dengan hanya menunggu

Hanya menunggu

Sambil ndlomong

Melihat kerusakan alam

Mereka hanya percaya

Kiamat sudah dekat

Tanpa berbuat

Karena itulah yang tertulis

Dalam kitab suci

Mereka hanya percaya

Hanya percaya

Dan berusaha mewujudkan yang sudah tertulis

Dalam kitab suci mereka

Kiamat sudah dekat

Oh seisi dunia

Cukup dengan percaya

Hanya dengan percaya

Buang kepercayaan

Sekarang

Kiamat tidak akan pernah ada

Berbuatlah

Berbuatlah


Segera

Karena kereta tak berhenti lama

Selasa, 14 April 2015

Ni(hi)l-ai

Adakah yang berbeda
Dari seorang penyapu jalan
Dari seorang dokter
Dari seorang dosen

Apakah seorang dokter lebih berjasa
Dari seorang penyapu jalanan

Apakah seorang pengkotbah lebih suci
Dari seorang kuli
Yang dari butir dan bau kecut keringat mereka
Berdiri kokoh tempat ibadah
Dan gedung sekolah

Aku bertanya pada setiap kalian
Dari manakah tuan dan nyonya
Menilai seberapa berjasanya kerja seseorang

Jikalau dokter yang kalian tunjuk lebih berjasa
Bagaimana dengan penyapu jalan
Yang setiap hari
Di pagi buta dengan sapu dengan sampah dan debu
Menjauhkan kita dari kumuh

Di manakah nilai jasa dokter
Jika setiap hari kalian
Hidup di tempat yang bersih
Jika setiap hari kalian
Sehat

Sekali lagi aku bertanya pada setiap kalian
Di manakah sosok suci yang kalian yakini
Saat para kuli
Bergotong royong membangun rumah tuhan
Gedung sekolah, rumah sakit, tempat tinggal kalian

Oh tuan dan nyonya
Pernakah terpikir
Seberapa berjasa mereka
Seberapa nilai uang yang mereka dapat

Dimanakah buruh-buruh
Saat kalian berbaris antri
Di kedai
Di toko
Di tempat perbelanjaan
Yang selalu menawarkan barang spesial

Semua profesi sama nilainya
Hanya gaji yang membuat mereka
Seakan berbeda

Sabtu, 28 Maret 2015

Menimang Anak Kecil Yang Sedang Tinggi

Menjadi anak kecil tidak semudah melinting tembakau. Menjadi anak kecil harus berani bermimpi, mempunyai tingkat keingin-tahuan yang tinggi, dan tidak menyimpan dendam. Itulah yang beberapa bulan ini aku pelajari dari kolektif Nandvr Dvlvr. Tidak mudah memang untuk menjadi anak kecil dengan kondisi bumi seperti saat ini. Bagaimana bisa bermimpi tinggi jika yang terpikir hanya menunggu gaji, bagaimana bisa gila akan pengetahuan baru kalau dalam diri sudah merasa tahu segalanya, dan bagaimana bisa berdamai dengan diri sendiri jika lebih suka mencari perbedaan ketimbang persamaan.

Anak kecil yang aku temui di taman kota selalu menghadirkan keceriaan, bukan karena dia datang bersama ibunya yang masih muda, bukan. Tapi karena dalam setiap anak kecil yang datang memiliki imajinasi mereka masing-masing, jadi jangan salahkan mereka saat mereka menggambar sebuah pohon dengan warna hitam, atau menggambar sebuah rumah yang berada di dasar laut. Di setiap mereka mempunyai mimpi akan masa depan dan jangan sekali-kali mencoba untuk menyamakan anak satu dengan anak lainnya, karena mereka terlahir dengan keajaibannya masing-masing.

Dalam benak sebagian orang mimpiku mungkin terlampau tinggi. Tak mengapa, karena memang aku sendiri suka tinggi. Mimpi untuk membangun sebuah sekolah gratis yang di dalamnya tidak ada istilah anak bodoh yang membuat diri mereka seakan berlumuran dosa karena tidak naik kelas. Karena memang tidak ada anak bodoh, semua anak pintar, semua anak punya keinginan dan kemampuan di bidang tertentu, dan sekolah ini nanti akan menggandeng anak tersebut menuju jalan keinginannya. Sekolah ini nanti bukan sekolah yang membebani anak dengan PR, tidak menyuruh anak untuk tunduk pada pengajar, tidak menyuruh anak harus hafal rumus dan tanggal-tanggal ultah pacar/mantan mereka penting dalam buku sejarah. Sekolah ini mengajarkan anak untuk berdiskusi, menjabarkan ide mereka kemudian bergerak bersama. Sekolah yang tidak ada pengajar paten, karena di setiap orang yang terlibat adalah guru sekaligus murid.

“Lalu bagaimana dengan ijasah mereka? apa kantor-kantor atau perusahaan dapat menerima mereka?”

Memang sulit jika melihat situasi seperti hari ini. Seseorang dipandang sukses jika mendapat gelar sarjana atau mempunyai uang ratusan juta. Para pria akan merasa berwibawa dan ksatria saat mengatakan pekerjaannya adalah PNS kepada calon mertua. Begitupun para wanita, mereka akan merasa seperti Cinta yang diperankan Dian Sastro saat bekerja di perusahaan ternama. Namun tidak semua seperti bayanganku di atas, hanya segelintir saja yang seperti itu. Ingat! Hanya segelintir. Lantas bagaimana dengan jawaban pertanyaaan di atas. Ijasah memang penting bagi mereka yang ingin melamar ke perusahaan atau kantor-kantor, namun jika lulusan sekolah gratis ini mempunyai bakat tertentu, bukankah perusahaan itu yang akan mencari mereka, atau malah mereka yang akan membangun perusahaan sendiri, berdikari. Aku tidak menyalakan atau mengkerdilkan orang-orang yang bekerja dalam naungan perusahaan, karena aku sendiri masih bekerja ikut orang. Toh, yang terpenting di sini bagaimana dia dapat mengendalikan dirinya sendiri, menghargai dirinya sendiri.

Dengan adanya sekolah yang tidak ada satupun muridnya bergelar murid bodoh, maka akan menjauhkan anak dari ajang bully. Anak akan saling menghargai keistimewaan anak lainnya. Karena seperti yang aku tulis di atas, bahwa setiap anak terlahir dengan keistimewaan masing-masing. Maka dari itu, dengan sangat bangga aku mengenalkan ide sekolah ini pada kalian yang membaca tulisan ini. Terserah kalian mau memaki aku karena mimpiku yang terlalu tinggi. Karena aku ingin selalu mengajak bermain anak kecil di sekitaranku dan juga anak kecil dalam diriku, maka dari itu mimpiku selalu tinggi, keingin-tahuanku selalu besar, dan aku belajar untuk tidak gampang dendam.


Karena dendam tak ubahnya seperti bom waktu, yang pada saatnya nanti akan menghancurkan segalanya, termasuk diri kita.