Kamis, 09 Mei 2013

Balada Senja

Kekasih, senja ini bercerita
Tentang kebahagiaan, tawa, dan canda
Tentang rasa yang tak terungkap kata kata
Pongah kau berkata
Akulah sang juara
Dulu

Kekasih, senja ini mengirim duka
Setiap sinarnya mengirim luka
Singgasana jiwa runtuh seketika
Itukah yang disebut kenangan?

Kekasih, cahaya ini menyakitkan
Berbisik kepada daun tentang aku
"satu orang belum menyerah"
Sedangkan kau selalu berkata
"tutuplah mata, rasakan aku disana"
Akankah goresan jiwa selalu berlabuh ditempat yang salah

Kekasih, pulanglah
Sebelum aku lupa, rindu yang kemarin

Minggu, 14 April 2013

Aku adalah Pikiranku

Aku adalah seperti yang ada di pikiranku
Tak perlu kamu bayangkan, susah pastinya
Gambar aku seperti yang ada dipikiranmu
bagaimana? lebih mudah bukan

Lebih mudah mana dengan membayangkan surgamu?
Jangan bayangkan surga ku, lelah kamu dibikinnya
Lukis surgamu sendiri, angkat kuasmu! sudah?
Sangat dekat bukan, bahkan lebih dekat dari urat lehermu

Lalu, apa kau tidak ingin membayangkan hal yang lain?
Masih banyak kanvas terjejer bersih dan rapi
Angkat kuasmu, lukiskan hal indah lain
Yang untuk mendapatkannya kau tak perlu menciptakan neraka di dunia

Selasa, 05 Februari 2013

Kapak Kecil

"So if you are the big tree
We are the small axe
Ready to cut you down
To cut you down"

Itulah salah satu penggalan lirik dari Bob Marley dalam lagunya yang berjudul 'Small Axe', lagu yang ditunjukkan untuk kaum penindas saat itu. Tak bisa ditampik lagi bahwa sosok Bob Marley sangat karismatik tidak hanya bagi kaum Rastafari atau penikmat musik Reggae, namun juga bagi para revolusioner. Marley yang masa kecilnya sudah akrab dengan kehidupan jalan terkenal berani walau memiliki tubuh kecil jika dibanding teman temannya. Keberanian inilah yang melekat sampai Marley dewasa dan pada akhirnya menjadi musisi yang pamor kebintangannya tidak kalah dengan Eric Clapton dan semangat pembebasan menurut saya setara dengan Che Guevara ( walaupun mereka beda aksi ).

Rasa cintanya pada negara dan Afrika berbanding lurus dengan rasa "benci" pada kaum Babylon ( kaum penindas/penjajah ). Itu dapat ditemui dalam lirik lirik lagu Marley, seperti dalam lagu yang berjudul 'Crazy Bald Head'. Bald Head yang dimaksud adalah kaum Babylon. Pada lagu itu, Bob Marley bercerita tentang ketidak-adilan yang dilakukan oleh Babylon. Lagu itu menceritakan bahwa orang - orang kulit hitam yang menanam jagung namun setan "Crazy Bald Head" yang memakan habis. Mereka orang - orang kulit hitam dipaksa membangun penjara ( yang kemudian hari mereka sendiri berada di dalamnya ). Dipaksa membangun sekolah, yang anehnya sekolah adalah tempat yang juga digunakan untuk menindas mereka orang kulit hitam. Dengan cara menyebarkan doktrin dan pembenaran bahwa orang kulit hitam memang ditakdirkan untuk menjadi budak, sedangkan orang kulit putih adalah ras paling unggul di dunia. Tak salah bila Bob Marley mengatakan mereka "Crazy Bald Head" dan ingin mengusir mereka dari Jamaika atau lebih luasnya mengusir mereka dari dunia.

Tapi sayangnya, di Indonesia pesan pesan Bob Marley tidak semua bisa menangkapnya, mereka hanya tahu bahwa Reggae itu santai. Karena saya yakin, mirip seperti Iwan Fals, lagu lagu Bob Marley akan berdampingan dengan ketidak-adilan di setiap zaman.

Selamat ulang tahun Bob Marley
Teruslah bernyanyi karena masih banyak pohon pohon besar yang harus kami tumbangkan :)

Kamis, 03 Januari 2013

Atap ku

Malang waktu dini hari

Tiga ekor nyamuk, satu betina dan dua jantan
Si betina terbang genit menyapa kedua pejantan
Tapi si pejantan sedang khusyuk memburu
Karena kelaparan

Sudut ruang seberang
Keluarga cicak keluar sarang mencari makan
Tergoda melihat satu nyamuk terbang bersahabat
Mendekat

Waktu yang sama
kedua pejantan nyamuk sadar si betina dalam ancaman
Berteriak tapi percuma
Sudah nasib mungkin
Si nyamuk betina menjadi santap malam cicak kelaparan

Ini terjadi tidak hanya dalam semalam
Malam sebelumnya dan yang akan datang
Tapi aku baru sadar

Siklus alam harus berjalan
Bukan kejam, namun keseimbangan

Mau makan apa cicak tanpa nyamuk

Di luar jendela bulan masih duduk di atas kepala
Matikan TV, karena itu terlalu berbahaya
Matikan koneksi, bersosial tidak harus disana

Plafon, darimu kisah ini tergurat
Tentang keseimbangan alam
Yang jauh diluar sana telah rusak oleh keserakahan
Yang sudah ada masih akan diada-adakan
Siklus alam mulai linglung mengikuti perkembangan zaman

Sawah sudah hilang
Kerbau nganggur
Ular tak lagi makan tikus
Sebab tikus sudah tidak lagi disawah
Pak tani ku resah
Tidak ada sawah

Duhai langit
Duhai bumi
Duhai alam raya
Kuserahkan ragaku padamu

Bulan masih ditempat yang sama
Plafon, aku tunggu ceritamu selanjutnya

Jumat, 26 Oktober 2012

Momentum, akankah datang?

Diam
Itu tindakan yang aku pilih
Bukan takut akan kebenaran, tapi bagiku...
Seorang Satria lah yang berani menunggu kebenaran itu muncul dengan sendirinya

Diam
Bukan karena aku tak mau bercerita
Aku rasa percuma
Tak sedikit orang yang menghinaku
Tak banyak orang yang mendukungku
Momentum, itu yang aku tunggu

Diam
Kalau pun aku bercerita
Harus membayar dengan apa agar kalian percaya
Karena aku bukan Sengkuni, aku memilih diam

Aku hanya bicara dengan Semesta
Bercerita dengan plafon
Dan berbisik dengan alam
Terkadang bercengkrama dengan teman,, tapi ketauhilah...
Teman, itu hanya sedikit dari kebenaran itu sendiri

Biarkan alam, Semesta raya, menjawabnya
Karena tugasku adalah Memayu Hayuning Bawono

Sekarang aku hanya ingin diam :)

Andai saja dunia melihat kebenaran yang dia lihat...
...Lalu biarkan seleksi Tuhan bekerja pada hati setiap orang
- Ariel

Inspirasi dari tulisan Ariel

Kamis, 11 Oktober 2012

Aku bukan Bisma

Pada sebuah senja aku bercerita...

Bisma, salah satu tokoh wayang yang (menurutku) sebenar benarnya lelaki. Dia (tak sengaja) membunuh gadis yang dicintai, karena terikat sumpah madat, sumpah tidak menikah seumur hidup. Tapi apakah Bisma itu ada? kalau pun dia ada, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk dia "move on"?.

Aku tak mau jadi Bisma, karena aku bukan dia, akupun tak tahu apakah dia memang benar benar ada. Aku ingin jadi aku. Yang bisa menangis, tertawa, sampai menangis lagi, sampai tertawa lagi.

Mari kita bicara sedikit tentang Bisma, perawakan yang kekar dengan wajah teduh saat memberi nasehat, dan jenggot putih dengan bidadari bergelantungan. Bisma, seperti yang aku ceritakan diatas, pernah bersumpah madat, dan dipeganggnya sumpah itu seumur hidup. Salah satu cerita yang membuat aku menilai dia sebagai lekaki sejati. Karena bagaimanapun, di dunia ini yang paling berat ialah sumpah dan janji. Itulah yang aku ragukan dari diriku untuk menjadi Bisma. Aku tak sanggup memegang sumpah atau janji yang sialnya itu keluar dari mulutku sendiri. Karena aku manusia.

Kembali ke Bisma...
Karena sumpah itulah dia tak sengaja membunuh Dewi Amba, seoarang dewi yang mencintainnya dan diam diam Bisma juga mencintainya, diam diam. Kehilangan, itu pasti, seberapa pedih rasa itu? rasa kasih yang tak diungkapkan, rasa kehilangan yang tak satupun orang tahu, dirasakannya sendiri, menangis dalam diam, karena dia menyanyanginya diam diam. 

Masih inginkah aku seperti Bisma, yang mencintai diam diam, tanpa kepastian, tanpa pengakuan. Tidak, aku bukan Bisma.

Tapi tahukah, diakhir cerita, Bisma berakhir bahagia, rohnya dijemput Dewi Amba untuk menuju Nirwana. Kalau yang satu ini, aku ingin seperti dia, bersanding dengan seorang yang kucinta, bukan seorang istri ataupun pacar, tapi seoarang yang kucinta. Karena jodoh adalah orang yang ada di hati menjelang ajalku.

Dari ruang yang bernama ADA, aku bertanya...
Masih berlaku kah janji itu? meski aku dan kamu bukanlah Bisma

Selasa, 07 Februari 2012

Malang

Hai malang, masih membeku kah orangmu?
Kau terlihat semakin tua
Kalau tak percaya, lihat punggungmu
Sudah mulai bungkuk, berpunuk tak kuat lagi menopang beton
Aduh lihat perutmu sudah mulai buncit
Sudah rancu kah susunan tubuh mu sampai sampai air pun bingung mencari dasar
Kau sungguh terlihat tak sehat, mukamu pucat
Mana teriakan orang orangmu? yang konon katanya heroik
Sudah tak tampak hidungnya, entah karena tertutup rimbunnya belantara beton
Atau terlena dengan kehedonan


Ah sial, aku juga termasuk orang orangmu
Aku juga bagian darimu
Aku juga termasuk orang orangmu yang beku